Saturday, February 4, 2012

STUDI KELAYAKAN BISNIS PEMBESARAN DOMBA

BAB I
GAMBARAN UMUM


1.1    Gambaran Umum Peternakan Domba
Menurut M.Rasyaf (1994) peternakan dapat definisikan sebagai suatu usaha atau kegiatan mengembangbiakan dan membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan tersebut. Kegiatan di bidang peternakan dibagi atas dua bagian, yaitu peternakan hewan besar dan peternakan hewan kecil. Besar dan kecilnya ini dilihat dari hewan ternaknya. Contoh untuk peternakan hewan besar adalah peternakan sapi, kambing, domba dan kuda sedangkan untuk peternakan hewan kecil adalah peternakan ayam dan peternakan kelinci (Sayuti A,2006).
Untuk saat ini pertanian tidak lagi dipandang dalam arti sempit, yang hanya terfokus pada kegiatan onfarm/budidaya saja. Saat ini terdapat paradigma baru mengenai cara pandang terhadap pertanian yaitu Agribisnis. Agribisnis adalah suatu sistem pertanian yang saling berkaitan antara sub-sub sistemnya yakni sub sistem hulu,sub sistem onfarm dan sub sistem hilir yang didukung oleh subsistem lembaga penunjang.
Peternakan merupakan salah satu kegiatan dari sektor pertanian, sehingga bila melihat peternakan dari paradigma baru pertanian maka dapat didefinisikan sebagai semua kegiatan peternakan yang dimulai dari subsistem penyedia sarana produksi ternak, proses produksi (budidaya) ternak, penanganan pasca panen, pengolahan  dan subsistem pemasaran (Edi Prasetyo,dkk,1998). Dalam subsektor peternakan, subsistem hulu meliputi industri bibit ternak, pakan ternak, obat-obatan dan vaksin ternak, serta alat-alat dan mesin peternakan. Berdasarkan jenis outputnya, subsistem usahatani dapat digolongkan menjadi usaha ternak perah, usaha ternak potong/pedaging, usaha ayam petelur,dan lain-lain. Subsistem agribisnis hilir meliputi usaha pemotongan hewan, industri susu, industri pengalengan daging, industri telur asin, industri kulit, restoran dan lain sebagainya. Subsistem institusi penunjang meliputi lembaga penelitian pemerintah, penyuluhan, lembaga keuangan, kesehatan hewan dan lain-lain.
Domba merupakan salah satu hewan yang biasa diternak. Domba termasuk kedalam family Bovidae. Di indonesia, ada dua bangsa domba yang terkenal atau biasa diternak yakni domba ekor gemuk yang banyak dijumpai di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan domba ekor tipis yang banyak terdapat di Jawa Barat. Adapun manfaat dari domba antara lain sebagai sumber protein hewani, kemudian susu domba dan bulunya dapat digunakan untuk industri tekstil.
Usaha peternakan domba termasuk salah satu jenis usaha yang harus mendapat perhatian untuk dikembangkan. Pada saat ini kegiatan ekonomi yang berbasis ternak domba terpusat pada peternakan rakyat di daearah pedesaan dengan motif usaha subsistens. Beberapa ciri dari usaha seperti ini adalah skala usaha kecil, modal kecil, bibit lokal, pengetahuan teknis beternak rendah, usaha bersifat sampingan, pemanfaatan waktu luang, tenaga kerja keluarga, sebagai tabungan dan pelengkap kegiatan usahatani.
Adapun kendala dalam usaha agribisnis peternakan domba antara lain ketidaktersediaan industri perbibitan domba/kambing yang dapat diandalkan. Padahal, upaya pembibitan sangat penting untuk menghasilkan ternak yang berkualitas. Selama ini, upaya pembibitan yang tidak kredibel telah menyebabkan kualitas genetik domba semakin menurun. Perilaku peternak yang cenderung menjual domba jantan berkualitas karena harganya relatif mahal, juga menjadi faktor penyebab kualitas domba yang berada di kalangan peternak rendah, menyebabkan keturunan domba generasi selanjutnya menjadi kurang baik, yang akhirnya menghilangkan kesempatan para peternak untuk memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik.


1.2    GAMBARAN KHUSUS KELOMPOK TANI TERNAK SUKAMAJU
Kelompoktani Ternak Sukamaju merupakan salah satu kelompok tani yang ada dalam Gapoktan Rukuntani, dimana kelompok tani ini bergerak dalam usaha peternakan, seperti domba, kambing dan sapi. Kelompok Tani Sukamaju beridiri pada tahun 1997 akan tetapi masih berdiri sendiri. Pada tahun 2008, Kelompok Tani Sukamaju bergabung dalam Gapoktan Rukuntani. Sedangkan Gapoktan Rukuntani berdiri pada tahun 2007 dengan status yang sudah diakui oleh pemerintah, dimana awalnya Gapoktan Rukuntani pada tahun 2001 merupakan Himpunan Rukuntani dan pada tahun 2006 berubah menjadi Gapoktan Rukuntani akan tetapi statusnya belum diakui.
Kelompoktani Ternak Sukamaju memiliki struktur organisasi yang terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara dan seksi kepengurusan di masing-masing bidang seperti seksi produksi, sarana produksi, pemasaran dan pengembangan usaha serta angota. Struktur organisasi Kelompok Tani Sukamaju dapat dilihat sebagai berikut :



STRUKTUR ORGANISASI
KELOMPOKTANI TERNAK SUKAMAJU

 
Kelompok tani Ternak Sukamaju memiliki 23 orang anggota yang seluruhnya bertempat tinggal di Desa Citapen Kecamatan Ciawi Bogor. Tingkat Pendidikan yang dimiliki anggota kelompoktani tersebut yaitu 1 orang lulusan SMA, 13 orang lulusan  SD, 1 orang lulusan SMK, dan 5 orang lulusan SMP. Kelompoktani Sukamaju terpilih sebagai Kelompoktani berprestasi terbukti dari adanya bantuan dana APBN dari Kementrian Pertanian.
          Ternak domba merupakan salah satu asset yang dimiliki Kelompoktani Ternak Sukamaju, dengan jumlah domba secara keseluruhan sebanyak 150 ekor dan ditempatkan dalam lokasi yang sama. Bibit yang diperoleh untuk penggemukan domba berasal dari beberapa daerah seperti Cianjur, Cicurug, Cigubeg dan Sukabumi. Untuk penggemukan domba dipilih domba jantan yang berumur minimal satu tahun dengan tinggi minimal 70 cm dan panjang minimal 1 meter. Waktu yang dibutuhkan untuk penggemukan domba sekitar tiga sampai empat bulan. Pada awal penggemukan bibit domba yang sudah dibeli terlebih dahulu dicukur dan dimandikan. Setelah itu diberi obat-obatan seperti obat cacing, antibiotik, vitamin serta vaksin yang diberikan 3 bulan sekali yaitu pada awal penggemukan.
          Pada saat penggemukan domba,  pakan yang diberikan yaitu rumput, konsentrat, ampas tahu dan air minum. Rumput yang diberikan kepada domba tergantung pada berat badan domba, rata-rata rumput yang diberikan sebanyak 25 kilogram per ekor perhari. Untuk konsentrat 2 kilogram perekor, ampas tahu 1 kilogram perekor perhari. Pemberian pakan ini dilakukan oleh tenaga kerja upah dan pengontrolannya dilakukan setiap hari.
          Wilayah pemasaran Domba di sekitar kota Bogor, Jakarta dan Depok. Pembelian domba dilakukan secara langsung oleh konsumen dengan mendatangi lokasi penggemukan domba, selain itu konsumen dapat juga memesan langsung melalui telephon ke Kelompoktani Ternak Sukamaju. Apabila konsumen membeli atau memesan domba lebih dari 10 ekor maka Kelompotani akan mengirim domba tersebut langsung ke konsumen namun apabila kurang dari 10 ekor maka konsumen harus dating langsung ke lokasi penggemukan domba. Penjualan domba pada hari-hari biasa relative sedikit, peningkatan permintaan terhadap domba terjadi pada saat hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Adha. Dari hasil penjualan domba, keuntungan yang diperoleh Kelompoktani Ternak Sukamaju akan diberikan kepada anggota dengan sIstem bagi hasil yaitu 60% untuk pengurus dan 40% untuk pemilik modal.  


1.3 Tujuan
1.    Mahasiswa dapat mengetahui aspek pasar seperti tingkat permintaan dan penawaran domba, jenis pasar domba, harga jual domba dan strategi pemasaran domba.
2.    Mahasiswa dapat mengetahui aspek teknis seperti lokasi bisnis, proses produksi, proses produksi, layout dan pemilihan jenis teknologi dan equipment pada usaha pembesaran domba.
3.    Mahasiswa mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi aspek manajemen dan hukum aspek sosial, ekonomi, dan budaya dan aspek lingkungan pada usaha pembesaran domba.
4.    Mahasiswa mengetahui cara penyusunan cash flow dan laba rugi pada pembesaran domba
5.    Mahasiswa dapat menilai apa yang akan terjadi pada bisnis jika terjadi perubahan dalam perhitungan biaya atau manfaat dengan analisis sensitivitas dan  analisis nilai pengganti (Switching Value Analysis) pada pembesaran domba.


BAB II
ASPEK-ASPEK DALAM STUDI KELAYAKAN BISNIS
PEMBESARAN DOMBA


Dalam tahap persiapan dan analisis suatu kelayakan bisnis perlu dipertimbangkan berbagai aspek yang mungkin terlibat dan satu sama lain saling berkaitan. Secara umum aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam studi kelayakan yaitu: (a) aspek pasar,(b) aspek teknis, (c) aspek manajemen dan hukum, (d) aspek sosial,ekonomi, dan budaya, (e) aspek lingkungan, (f) aspek finansial (keuangan).
Dewasa ini banyak perusahaan bermunculan dan karenanya persaingan juga semakin tajam. Keadaan yang demikian, menjadikan aspek pasar menempati kedudukan utama dalam pertimbangan investor dan pendekatan yang digunakan oleh investor dalam memperebutkan konsumen. Peranan analisis aspek pasar dalam pendirian maupun perluasan bisnis pada studi kelayakan bisnis merupakan hal utama untuk mendapat perhatian.
Aspek pasar dan pemasaran menempati urutan pertama dalam dalam studi kelayakan bisnis. Besar permintaan produk serta kecendrungan perkembangan permintaan selama masa kehidupan  bisnis yang akan datang perlu diperkirakan dengan cermat. Tanpa perkiraan jumlah permintaan produk yang diteliti, dikemudian hari bisnis dapat terancam karena adanya kekurangan atau kelebihan dari permintaan. Baik kekurangan maupun kelebihan permintaan akan menyebabkan kegiatan bisnis tidak dapat beroperasi secara efisien.
Pemasaran kegiatan usaha pembesaran domba diharapkan beroperasi secara sehat bilamana produk yang dihasilkan mampu mendapat tempat di pasaran, serta dapat menghasilkan jumlah hasil penjualan yang memadai dan menguntungkan. Agar dapat memperoleh gambaran seberapa jauh kegiatan usaha pembesaran domba yang direncanakan dapat memenuhi persyaratan tersebut, berbagai hal yang bersangkutan dengan pasar dan pemasaran produk perlu ditelaah seperti permintaan domba, penawaran domba, penetapan harga domba, dan strategi pemasaran domba.


2.1  ASPEK PASAR
1. Permintaan Domba
Permintaan merupakan sejumlah produk yang dibeli atau diminta pada suatu harga dan waktu tertentu. Umumnya pasokan domba  masih terfokus memenuhi kebutuhan hewan qurban Idul Adha, akikah, serta konsumsi daging potong untuk sate dan gule. Ada beberapa hal yang mempengaruhi permintaan domba pada Kelompok Tani Sukamaju, seperti prilaku konsumen, dan hari-hari besar nasional maupun keagamaan. Konsumen yang menjadi pelanggan atau pembeli domba pada Kelompok Tani Sukamaju kebanyakan dari kalangan pengusaha rumah makan yang menyediakan olahan makanan berbahan baku daging domba seperti pedagang sate domba, sop daging domba,dan lainnya.  Semakin terbuka lebar peluang usaha rumah makan sate domba maka permintaan terhadap domba akan semakin meningkat.
Selain konsumen yang berasal dari kalangan pengusaha rumah makan, konsumen daging domba juga berasal dari masyarakat setempat. Dimana permintaan masyarakat akan semakin tinggi pada saat Hari Raya Idul Adha karena dibutuhkan domba dalam jumlah banyak untuk qurban. Kelompok Tani Sukamaju dapat menjual domba hingga 300-400 ekor pada saat Hari Raya Idul Adha sehingga Kelompok Tani Sukamaju harus menyediakan stok yang banyak tiga atau empat bulan sebelum Hari Raya Idul adha tiba untuk memenuhi permintaan konsumen dari kota Bogor, Jakarta dan Depok.
2. Penawaran Domba
Penawaran adalah sejumlah produk yang dijual atau ditawarkan pada suatu harga dan waktu tertentu. Penawaran domba pada Kelompok Tani Sukamaju dipengaruhi oleh biaya produksi, tujuan kelompok tani, dan perubahan harga yang terjadi dipasaran. Biaya produksi dapat mempengaruhi tingkat penawaran, karena jika biaya produksi yang digunakan semakin besar maka harga yang ditawarkan akan semakin tinggi dan berimplikasi pada keinginan kelompok tani untuk mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan ternak domba. Perubahan harga domba pada tingkat pasar akan menyebabkan perubahan pada tingkat penawaran domba ditingkat produsen. Dalam ilmu ekonomi dasar, jumlah produk yang ditawarkan berbanding lurus dengan harga artinya jika harga naik maka jumlah barang yang ditawarkan juga akan naik dan sebaliknya jika harga turun maka jumlah barang yang ditawarkan akan berkurang.
Penawaran domba yang dilakukan oleh Kelompok Tani Sukamaju terbatas pada konsumen yang menjadi pelanggan tetap dan konsumen yang berada di wilayah Bogor, Jakarta dan Depok. Penawaran dilakukan apabila usaha pembesaran domba oleh Kelompok Tani Sukamaju telah memasuki waktu siap jual.

3.   Struktur Pasar Domba
Pasar domba pada Kelompok Tani Sukamaju termasuk pada pasar persaingan sempurna. Hal ini disebabkan oleh pasar tersebut memiliki kesamaan ciri pasar persaingan sempurna seperti produk yang dijual homogen, terdiri atas banyak penjual dan pembeli, setiap penjual mempunyai kebebasan untuk keluar dan masuk ke dalam pasar, pembeli dan penjual mempunyai informasi yang lengkap tentang pasar, struktur harga dan kualitas barang.
Barang yang dijual bersifat homogen memiliki pengertian bahwa dalam pasar produk yang dijual semua sama yaitu domba. Pada pasar domba banyak penjual yang menawarkan produk yang sama dan begitu juga dengan konsumen yang membeli di pasar domba tersebut. Asumsi banyak penjual dan homogenitas produk menyatakan secara tidak langsung bahwa kelompok tani tidak mampu mempengaruhi harga pasar, karena kelompok tani pada pasar persaingan sempurna merupakan price taker yang hanya menerima harga jual yang telah ditentukan oleh pasar. Dalam pasar persaingan sempurna Kelompok Tani Sukamaju bertindak sebagai price taker, dengan alasan bahwa apabila kelompok tani menetapkan harga domba lebih tinggi daripada harga pasar maka banyak pelanggan yang beralih ke penjual lain. Sebaliknya apabila kelompok tani menetapkan harga domba di bawah harga pasar yang berlaku maka kelompok tani dapat menderita kerugian karena pada harga pasar yang berlakupun semua domba dapat terjual.

4.   Penetapan Harga Domba
Dalam penetapan harga jual ada beberapa dasar penentuan harga jual yaitu, Cost Oriented Pricing, Demand Oriented Pricing, Competition Oriented Pricing. Cost Oriented Pricing adalah penentuan harga jual berdasarkan biaya produksi diantaranya  biaya variabel, biaya differensial (marginal), biaya penuh, biaya konversi, dan biaya langsung. Sedangkan biaya  Demand Oriented Pricing adalah penetapan harga jual berdasarkan pada banyaknya permintaan (Price Taker) pada pasar persaingan sempurna. Kemudian Competition Oriented Pricing adalah penetapan harga jual berdasarkan pada harga pesaing. Penetapan harga ini dapat ditetapkan dalam 3 kebijakan yaitu sama dengan harga pesaing, dibawah harga pesaing atau diatas harga pesaing. Jadi dalam penentuan harga jual Domba pada Kelompok Tani Sukamaju didasarkan atas Competition Oriented Pricing atau harga pesaing, yaitu pesaing-pesaingnya pada usaha yang sama. Kebijakan penetapan harga yang dipakai adalah sama dengan pesaingnya (harga pemimpin), karena kelompok tani ini merupakan salah satu usaha pembesaran domba dengan kapasitas usaha yang besar. 

5.   Strategi Pemasaran Domba
Dalam strategi pemasaran, yaitu 4P (Product, Price, Place, Promotion) pada Kelompok Tani Sukamaju dapat dijelaskan dalam penjabaran berikut. Strategi pemasaran yang pertama yaitu Product (Produk). Produk yang dihasilkan dari peternak domba kelompok ini adalah domba hasil pembesaran yang dapat berupa domba hidup maupun domba potong. Pembesaran domba  dilakukan selama 3-4 bulan dari umur domba bibit yaitu 8 bulan. Untuk domba hidup memiliki kriteria, yaitu sehat, bulunya telah dipotong sehingga domba postur tubuh domba terlihat jelas, apakah domba tersebut gemuk dikarenakan bulu yang tebal atau domba tersebut benar-benar memiliki postur tubuh yang gemuk, kemudian bobot domba yaitu 50-80 kg per ekor. Untuk produk domba potong, produk ini biasanya merupakan pesanan dari konsumen-konsumen tertentu, misalnya untuk aqiqah ataupun untuk rumah makan sate.
Strategi pemasaran yang kedua yaitu price. Domba yang dijual dapat berupa domba hidup maupun domba potong. Harga yang ditetapkan untuk domba hidup yaitu Rp 24.000,00 sampai Rp 25.000,00 per kilogram. Harga ini biasanya terjadi pada saat penjualan di hari biasa. Sedangkan pada saat hari besar keagamaan, harga tersebut naik menjadi Rp 35.000,00 sampai Rp 40.000,00 per kilogram. Sedangkan, domba potong dijual pada kisaran harga Rp 50.000,00 per kilogram.
Selanjutnya yaitu strategi pemasaran yang ketiga yaitu Place (Lokasi). Lokasi peternakan ini berada di daerah dekat penghasil input (bibit domba) dan pemasaran. Lokasi peternakan ini yaitu di Desa Citapen, kecamatan Ciawi Bogor. Bibit domba di dapatkan dari daerah Cianjur dan Cisaat, Sukabumi. Sedangkan pemasaran dilakukan ke daerah sekitar peternakan maupun ke Jakarta dan Tanggerang serta sekitar Bogor.
Strategi pemasaran yang terakhir yaitu Promotion (Promosi). Promosi kelompok tani ini dilakukan dari “mulut ke mulut” konsumen. Sehingga kelompok ini telah dikenal oleh berbagai kalangan konsumen.
Kemudian STP (Segmentation, Targeting, Positioning) dari kelompok Tani Sukamaju, yaitu segmentation kelompok ini yaitu segmentasi  secara khusus pada aqiqah, sedangkan segmentasi umum pada pedagang sate dan acara-acara tertentu seperti hari raya keagamaan. Konsumen dari kelompok Tani ini merupakan konsumen langsung.
Targeting dari kelompok tani ini adalah ingin memiliki rumah makan sate khusus domba dan olahan daging domba lainnya.  Positioning kelompok tani ini berada di posisi leader, hal ini dapat dilihat dari cara penentuan harga jual domba, luas daerah pemasaran dan jumlah domba yang dijual cukup banyak.



2.2    ASPEK TEKNIS
Aspek teknis merupakan suatu aspek yang berkenaan dengan proses pembangunan bisnis secara teknis dan pengoperasiannya setelah bisnis tersebut selesai dibangun. Beberapa faktor yang ada didalam aspek teknis, diantaranya :
1.  Lokasi Bisnis, yakni dimana suatu bisnis akan dilaksanakan baik untuk pertimbangan lokasi dan lahan pabrik maupun lokasi bukan pabrik. Lokasi peternakan ini berada di daerah dekat penghasil input (bibit domba) dan pemasaran. Lokasi peternakan ini yaitu di Desa Citapen, kecamatan Ciawi Bogor. Bibit domba di dapatkan dari daerah Cianjur dan Cisaat, Sukabumi. Sedangkan pemasaran dilakukan ke daerah sekitar peternakan maupun ke Jakarta dan Tanggerang serta sekitar Bogor.

    Adapun layout dari lahan peternakannya seperti gambar di bawah ini


2.  Skala operasi, yang ditetapkan untuk mencapai suatu tingkatan skala ekonomis. Skala operasi dari peternakan ini tergolong pada skala besar. Hal ini ditunjukkan dari terbentuknya kelompok tani ini yang berasal dari gabungan peternak-peternak domba. Sehingga dapat menghasilkan output produksi dengan kapasitas lebih dari 500 ekor domba dan dengan luas lahan sekitar 300 m2.


3.  Kriteria pemilihan mesin dan equipment utama serta alat pembantu mesin dan equipment. Pemilihan alat produksi pada peternakan ini sudah tepat karena dipilih sesuai kegunaannya. Misalnya, mobil pengangkut domba, motor roda tiga pengangkut rumput, mesin pencacah rumput,dan lain-lain. Dengan pemili.han alat produksi yang tepat ini, maka produksi peternakan ini dapat berjalan dengan lancar.


2.1    ASPEK MANAJEMEN DAN HUKUM
A.   ASPEK MANAJEMEN
Kegiatan usaha yang telah dinyatakan layak untuk dikembangkan tentu tidak terlepas dari adanya peran manajemen untuk keberhasilan dari usaha tersebut.  Bagaimanapun baiknya prospek dari kegiatan usaha yang dilaksanakan, apabila tidak didukung oleh manajemen yang baik akan menimbulkan atau mengalami kegagalan pada masalah tersebut, maka tugas penting yang perlu dilaksanakan agar tujuan yang telah tercantum dalam studi kelayakan perlu diuraikan kembali. Tugas-tugas tersebut mennyangkut dengan fungsi manajemen seperti perencanaan, pengorganisaasian, pengadaan tenaga kerja, pengarahan pekerjaan dan pengawasan.

1.   Kebutuhan Sumber Daya Manusia (Tenaga Kerja)
Sumber daya manusia merupakan aspek terpenting dalam manajemen, karena dengan penggunaan sumber daya manusia yang baik maka kegiatan usaha tersebut dapat berjalan dengan baik pula. Tidak hanya sumber daya manusia yang berkualifikasi baik, tentunya sumber daya manusia sebagai tenaga kerja pun harus dikelola dengan sebaik-baiknya agar penggunaanya dapat efisien.
Sumber daya manusia pada Kelompok Tani Sukamaju berasal dari anggota kelompok tani itu sendiri, dimana setiap anggota diberi wewenang untuk bertanggungjawab pada sejumlah ternak yang dimilikinya. Kelompok tani ternak domba ini memperkerjakan sebanyak 5 orang tenaga kerja diantaranya sebagai pencari pakan, pemberi pakan, penjaga kebersihan kandang serta perawatan ternak. Tenaga kerja tersebut diberi upah sebesar Rp 35.000,- perhari. Pengadaan tenaga kerja tersebut perlu diimbangi dengan kebutuhan tenaga kerja dan disesuaikan dengan jenis pekerjaan. Pekerjaan dalam Kelompok Tani Sukamaju termasuk dalam skala usaha yang masih relatif kecil, dimana jumlah tenaga kerja masih sedikit sehingga antara pemimpin atau ketua kelompok tani dengan karyawan dan anggotanya masih mudah untuk dilakukan pengawasan dan spesialisasi kerja.

2.   Struktur Organisasi
Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pembentukan struktur organisasi adalah bentuk kegiatan dan cara pengelolaan dari kegiatan usaha yang telah direncanakan secara efisien. Apabila bentuk dan sistem pengelolaan telah ditentukan secara teknis maka berdasarkan pada kegiatan itu pula disusun bentuk struktur organisasi yang cocok dan sesuai untuk menjalankan kegiatan pembesaran ternak domba.


Kelompoktani Ternak Sukamaju memiliki struktur organisasi yang terdiri dari ketua, wakil ketua, sekretaris, bendahara dan seksi kepengurusan di masing-masing bidang seperti seksi produksi, sarana produksi, pemasaran dan pengembangan usaha serta anggota. Struktur organisasi Kelompok Tani Sukamaju dapat dilihat sebagai berikut :

STRUKTUR ORGANISASI
KELOMPOKTANI TERNAK SUKAMAJU




Ketua kelompok memegang peranan penting dalam memimpin kegiatan usaha yang dilakukan. Peran ketua kelompok sangat dibutuhkan dalam suatu organisasi, selain sebagai pemberi tugas pada setiap anggota kelompoknya ketua juga memiliki tanggungjawab yang besar terhadap setiap keputusan yang diambilnya. Apabila seorang ketua kelompok berhalangan hadir atau datang pada kegiatan Kelompok Tani Sukamajau ataupun kegiatan pada tingkat anggota Gapoktan Rukuntani, maka keberadaan ketua kelompok dapat digantikan oleh seorang wakilnya. Fungsi dari adanya wakil ketua memberi manfaat tersendiri bagi kelompok, dimana wakil ketua dapat membantu setiap permasalahan yang dihadapi kelompok dalam hal pengambilan keputusan dan musyawarah anggota kelompok. Organisasi akan berjalan apabila didukung dengan adanya kerjasama yang baik antar pengurus organisasi itu sendiri. Selain ketua dan wakil ketua, organisasi juga membutuhkan sekretaris dan bendahara serta seksi-seksi pada setiap bidangnya sehingga organisasi tersebut dapat berjalan dengan baik dalam menjalankan program-program kerja yang telah ditetapkan. Pengurus organisasi bertanggungjawab atas anggotanya, struktur pengurusan organisasi pun dibimbing dan dibina serta dilindungi oleh Kepala Desa dan Penyuluh.


A.   ASPEK HUKUM
Aspek hukum mempelajari tentang bentuk badan usaha yang akan digunakan dan mempelajari jaminan-jaminan yang bisa disediakan bila akan menggunakan sumber dana yang pinjaman berbagai akta, sertifikat dan izin. Kelompok tani peternak domba ini telah resmi terdaftar di Departemen Pertanian pada tahun 1997 yaitu pada saat kelompok ini terbentuk. Proses perijinan dilakukan dengan mengajukan proposal ke Departemen Pertanian yang disetujui oleh aparat desa setempat, yang kemudian diajukan ke Departemen Pertanian. Selanjutnya diverifikasi dan akhirnya mendapatkan sertifikat kelompok tani.


1.4    ASPEK SOSIAL, EKONOMI, DAN BUDAYA
Dalam aspek sosial, ekonomi, dan budaya yang akan dinilai adalah seberapa besar bisnis mempunyai dampak sosial, ekonomi, dan budaya terhadap masyarakat keseluruhan. Pada usaha pembesaran domba Kelompok Tani Sukamaju, aspek sosial yang ditimbulkan oleh usaha ini yaitu penambahan kesempatan kerja bagi maasyrakat yang tidak memiliki pekerjaan sehingga pengangguran berkurang pada Desa Citapen tersebut. Masyarakat yang awalnya tidak bekerja, dengan adanya usaha pembesaran domba oleh Kelompok Tani Sukamaju tersebut menjadi bekerja seperti menjadi karyawan yang merawat ternak domba, memberi makan dan membersihkan kandang domba. Selain kesempatan kerja, pengaruh usaha pembesaran domba pada Kelompok Tani Sukamaju terhadap lingkungan sekitar lokasi usaha yaitu adanya perbaikan jalan  di gang-gang masyarakat sekitar.
Dari aspek ekonomi usaha pembesaran domba pada Kelompok Tani Sukamaju dapat memberikan peluang peningkatan pendapatan masyarakat, masyarakat yang bekerja pada usaha peternakan domba akan memperoleh pendapatan, dengan adanya pendapatan tersebut maka tingkat pembelian masyrakat untuk kebutuhannya akan semakin meningkat dan dapat menambah aktivitas ekonomi.
Perubahan dalam teknologi atau peralatan teknis dalam usaha dapat secara budaya mengubah jenis pekerjaan yang dilakukan oleh masyarakat sehingga mengakibatkan tenaga kerja kehilangan pekerjaan. Akan tetapi pada usaha pembesaran domba aspek budaya tidak begitu berpengaruh terhadap masyarakat atau tenaga kerja. Karena pada pembesaran domba pada Kelompok Tani Sukamaju dibutuhkan pekerja ataupun orang yang merawat domba-domba tersebut. Perawatan, pemberian pakan dan pembersihan kandang dilakukan oleh tenaga kerja secara tradisional sehingga pekerja sangat dibutuhkan untuk usaha ini.


1.5    ASPEK LINGKUNGAN
Aspek lingkungan merupakan aspek yang mempelajari bagaimana pengaruh bisnis tersebut terhadap lingkungan, apakah dengan adanya bisnis menciptakan lingkungan semakin baik atau semakin rusak. Pertimbangan tentang siatem alami dan kualitas lingkungan dalam analisis suatu bisnis justru akan menunjang kelangsungan suatu bisnis itu sendiri, sebab tidak ada bisnis yang akan bertahan lama apabila tidak bersahabat dengan lingkungan.
Pada usaha pembesaran domba Kelompok Tani sukamaju, limbah yang dihasilkan adalah kotoran domba itu sendiri yang dapat menyebabkan pencemaran pada lingkungan yaitu bau yang menyengat sehingga akan mencemari udara di sekitarnya. Akan tetapi limbah ini dimanfaatkan oleh Kelompok Tani Sukamaju yaitu dijadikan pupuk kompos sehingga pencemaran lingkungan seperti pencemaran udara yang ditimbulkan dari kotoran domba tersebut dapat diatasi. Kotoran domba yang ada di kandang domba dibersihkan setiap hari, kemudian dikemas dengan memasukkannya ke dalam karung dan disimpan di gudang. Pupuk kompos tersebut lebih sering diberikan secara cuma-cuma kepada anggota Kelompok Tani Sukamaju maupun warga sekitar yang membutuhkannya untuk memupuk tanaman mereka.  






BAB III
PENYUSUNAN CASH FLOW BISNIS
DAN LAPORAN LABA RUGI

1.1    Penyusunan Cash Flow Bisnis Pembesaran Domba
Penerimaan dan pengeluaran dalam bisnis pembesaran domba merupakan komponen yang sangat penting untuk melihat aktivitas yang berlangsung pada bisnis tersebut. Aliran penerimaan dan pengeluaran tersebut dikenal dengan istilah aliran kas (cash flow). Cash flow disusun untuk menunjukkan perubahan kas selama satu periode tertentu serta memberikan alasan mengenai perubahan kas tersebut dengan menunjukkan dari mana sumber-sumber kas dan penggunaan-penggunaannnya.
Pada bisnis pembesaran domba cash flow merupakan arus manfaat bersih sebagai hasil pengurangan arus biaya dan manfaat. Cash flow pada bisnis pembesaran domba terdiri dari beberapa unsur. Unsur-unsur tersebut terdiri dari: (1) Inflow (arus penerimaan), (2) Outflow (arus pengeluaran), dan (3) Manfaat bersih (Net Benefit).

1.     Inflow
Pada berasal dari produksi total domba yang dihasilkan setiap tahun dikalikan dengan harga persatuan bisnis pembesaran domba komponen yang termasuk inflow adalah nilai produksi total dan penerimaan lain yaitu kotoran domba. Nilai produksi total pada pembesaran domba domba tersebut begitu juga dengan kotoran domba. Total produksi kotoran domba yang dihasilkan setiap tahun dikalikan dengan harga kotoran domba tiap karung nya.

2.     Outflow
Ouflow adalah aliran yang menunjukkan pengurangan kas, akibat biaya-biaya yang dikeluarkan untuk membiayai kegiatan bisnis pembesaran domba baik pada saat di awal pendirian maupun pada saat tahun berjalannya bisnis tersebut. Komponen-komponen yang terdapat pada arus kas keluar (outflow) pada pembesaran domba yaitu biaya investasi, biaya operasional dan pajak.

a.    Biaya Investasi
Biaya investasi pada bisnis pembesaran domba adalah biaya yang dikeluarkan satu kali untuk memperoleh beberapa kali manfaat sampai secara ekonomis kegiatan bisnis itu tidak menguntungkan lagi. Biaya yang dikeluarkan untuk investasi tersebut adalah tanah, kandang, gedung, mobil pengangkut domba, motor pakan, sabit, ember, gegerekan dan skop.  Dari beberapa biaya investasi yang dikeluarkan tersebut ada beberapa juga yang dikeluarkan pada beberapa tahun setelah bisnis berjalan yang disebut re-investasi seperti mobil domba, motor pakan, sabit, ember, gegerekan dan skop.

b.   Biaya Operasional
Biaya operasional merupakan semua biaya produksi, pemeliharaan dan lainnya yang menggambarkan pengeluaran untuk menghasilkan produksi yang digunakan setiap produksi dalam satu periode kegiatan produksi. Biaya operasional pada bisnis pembesaran domba terdiri dari dua komponen utama yaitu biaya variabel dan biaya tetap.
     Biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya selaras dengan perkembangan produksi atau penjualan setiap tahun. Pada bisnis pembesaran domba yang termasuk biaya variabel adalah bibit omba, rumput, konsentrat, obat-obatan, bahan bakar minyak (BBM), air, beban listrik, upah tenaga kerja, dan telepon. Sedangkan biaya tetap yang merupakan biaya yang jumlahnya tidak berpengaruh oleh perkembangan jumlah produksi atau penjualan dalam satu tahun. Pada bisnis pembesaran domba yang termasuk biaya tetap adalah abodemen telepon dan tenaga kerja tetap yaitu pemilik sebanyak 1 orang.
     Untuk mempermudah perhitungan dalam melakukan studi kelayakan bisnis pada bisnis domba tersebut maka informasi-informasi tersebut dimasukkan ke dalam tabel. Tabel cashflow pembesaran domba dapat dilihat pada lampiran.
     Dari tabel cashflow tersebut terlihat pada tahun pertama net benefit yang didapatkan berjumlah negatif, ini menyatakan bahwa pada tahun pertama bisnis tersebut rugi. Hal ini dikarenakan pada tahun pertama biaya yang dikeluarkan sangat lah banyak daripada pemasukan yang didapatkan. Selain itu pada tahun pertama biaya yang besar dikeluarkan yaitu biaya untuk investasi yang hanya dikeluarkan sekali yaitu pada tahun pertama sehingga pada awal tahun pertama bisnis tersebut rugi. Namun pada tahun kedua bisnis tersebut sudah untung karena net benefit nya sudah positif, biaya investasi tidak dikeluarkan lagi.

1.2    Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi adalah total penerimaan pengeluaran dan kondisi keuntungan yang diperoleh suatu perusahaan dalam satu tahun akuntansi atau produksi. Laporan laba/rugi  pada bisnis domba menggambarkan kinerja suatu bisnis tersebut dalam upaya mencapai tujuannya selama periode tertentu.  Laporan laba rugi pada bisnis pembesaran domba dapat dilihat pada lampiran.



BAB IV
ANALISISS SENSITIVITAS DAN  ANALISIS NILAI PENGGANTI
(SWITCHING VALUE ANALYSIS)

  1. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas merupakan salah satu perlakuan terhadap ketidakpastian. Analisis sensitivitas pada bisnis pembesaran domba dilakukan dengan cara mengubah besarnya variabel-variabel yang penting masing-masing terpisah atau dalam kombinasi dengan suatu persentase tertentu yang sudah diketahui atau diprediksi. Kemudian dinilai seberapa besar sensitivitas perubahan variabel-variabel tersebut berdampak pada hasil kelayakan (NPV, IRR. Net B/C).
Analisis sensitivitas dilakukan karena dalam analisis bisnis pembesaran domba perhitungan umumnya didasarkan pada proyeksi-proyeksi yang mengandung ketidakpastian tentang apa yang terjadi yang akan dating serta digunakan untuk melihat apa yang akan terjadi dengan kondisi ekonomi dan hasil analisa bisnis jika terjadi perubahan atau ketidaktepatan dalam perhitungan biaya atau manfaat.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada bisnis pembesaran domba yaitu perubahan harga seperti naik turunnya permintaan , keterlambatan pelaksanaan seperti adanya penyakit antraks dan kenaikan biaya seperti kenaikan biaya produksi( kenaikan biaya operasional).  Analisis sensitivitas bisnis pembesaran domba dapat dilihat pada lampiran.

  1. Analisis  Nilai Pengganti (Switching Value Analysis)
Switching value merupakan perhitungan untuk mengukur perubahan maksimum dari perubahan suatu komponen inflow (penurunan harga output, penurunan produksi) atau perubahan komponen outflow (peningkatan harga input/peningkatan biaya) yang masih dapat ditoleransi agar bisnis masih tetap layak.
Analisis switching value pada bisnis pembesaran domba dilakukan dengan menghitung secara coba-coba perubahan maksimum yang terjadi akibat perubahan di dalam komponen inflo atu outflow seperti kenaikan biaya produksi dan penurunan volume produksi domba. Analisis switching value pada bisnis pembesaran domba dapat dilihat pada lampiran.





BAB V
KESIMPULAN

1.    Aspek pemasaran merupakan kegiatan usaha yang perlu diperhatikan, karena berkaitan dengan permintaan, penawaran, posisi struktur pasar, penetapan harga, dan strategi pemasaran serta STP hingga pada akhirnya kelompok tani mampu bersaing di pasar. Permintaan  masyarakat semakin tinggi pada saat Hari Raya Idul Adha karena itu dibutuhkan domba dalam jumlah banyak untuk qurban. Kelompoktani Sukamaju dapat menjual domba hingga 300-400 ekor pada saat Hari Raya Idul Adha . Penawaran domba yang dilakukan oleh Kelompoktani Sukamaju terbatas pada konsumen yang menjadi pelanggan tetap dan konsumen yang berada di wilayah Bogor, Jakarta dan Depok.
2.    Aspek teknis, manajemen dan hukum, aspek sosial, ekonomi dan bidaya serta aspek lingkungan pada bisnis pembesaran domba dapat dikatakan baik karena telah memenuhi kriteria kelayakan bisnis.
3.    Pada bisnis pembesaran domba  jika terjadi perubahan dalam perhitungan biaya atau manfaat dengan analisis sensitivitas dan  analisis nilai pengganti (Switching Value Analysis) maka nilai NPV, IRR dan Net B/C juga berubah sehingga dapat diketahui bisnis tersebut sensitif terhadap perubahan seperti berubahnya harga, penurunan volume produksi dan adanya kenaikan biaya operasional.


DAFTAR PUSTAKA


Nurmalina R, Sarianti T, Karyadi A. 2010. Studi Kelayakan Bisnis. Bogor : Departemen    Agribisnis FEM-IPB.

Ibrahim, HMY. 1998. Studi Kelayakan Bisnis. Rineka Cipta. Jakarta
http://enterandri.multiply.com/journal/item/5 (Diakses 22 Maret 2011; 10:20)





















































No comments:

Post a Comment

download,pdf,agribisnis,ppt,studi,kasus,perbankan,kelayakan,skripsi,pkl